MENGUBAH POLA PIKIR SISWA MELALUI STRATEGI INTERVENSI 4-SI DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN MENDALAM. Oleh: Mohammad Wajdi(Kepala SMP Negeri 4 Kuripan Lombok Barat NTB)


SITUASI
Secara umum, pola berpikir siswa di SMP Negeri 4 Kuripan masih tergolong rendah atau berada pada tahap pola berpikir tetap (fixed mindset). Hal ini diperkuat oleh hasil angket acak terhadap 91 siswa dari kelas VIIb, VIIIb, dan IXb dengan temuan sebagai berikut:

Sebanyak 65,93% atau 60 siswa menjawab “YA”, yang menunjukkan keyakinan bahwa kemampuan bersifat tetap dan dibawa sejak lahir.
Hanya 34,06% atau 31 siswa yang menjawab “TIDAK” terhadap pernyataan bahwa kecerdasan ditentukan sejak lahir dan tidak bisa diubah.

Selain itu, karakter siswa yang merujuk pada 8 Dimensi Profil Lulusan (8 DPL) masih dirasa kurang. Mayoritas siswa lebih memilih diam atau takut salah dan hanya sedikit yang memiliki kepercayaan diri untuk tampil di depan umum.
Berdasarkan catatan dari pak Jemi (Urusan Kesiswaan), sebagian besar siswa masih pasif saat diminta melakukan presentasi. Mereka cenderung membaca teks secara langsung daripada mencoba memahami dan menjelaskan menggunakan kata-kata sendiri. Karakter kurang percaya diri ini dinilai belum terbiasa dibentuk oleh guru saat proses pembelajaran.
Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:

Kurangnya intervensi dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Guru rata-rata mengajar hanya sampai tahap pemahaman, padahal tuntutan pembelajaran mendalam mengharuskan siswa mampu mengaplikasikan materi tersebut.
Belum terbangunnya kemitraan pembelajaran yang kuat antara guru, warga sekolah, dan orang tua.
Ketidakterlibatan orang tua secara optimal, padahal sebagian besar waktu siswa dihabiskan di rumah bersama mereka.

Kecenderungan siswa yang mudah menyerah juga terlihat dalam berbagai kegiatan sekolah, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kegiatan pembiasaan. Hanya beberapa siswa yang berani tampil dan mencoba menunjukkan kemampuannya, sementara yang lain lebih memilih untuk diam dan pasif.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengalaman siswa dalam menghadapi permasalahan yang menantang dan kompleks. Hal tersebut dikarenakan kurangnya intervensi guru dalam membiasakan materi yang bersifat Higher Order Thinking Skills (HOTS) serta kurangnya pengaplikasian pemahaman dalam proses pembelajaran, sehingga siswa cenderung cepat menyerah. Kreativitas siswa juga masih terbatas karena belum terbiasa diberi ruang untuk berimajinasi, berinovasi, dan bereksperimen dalam proses belajar.
Kondisi karakter ini diakui oleh sebagian besar guru berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan mereka dalam setiap kegiatan. Jarang sekali siswa yang benar-benar siap saat diminta untuk tampil. Oleh karena itu, diperlukan adanya intervensi yang terarah melalui kegiatan pembelajaran, pembiasaan, pemberdayaan, serta kerja sama antara guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah. Tujuannya agar siswa dapat dilatih secara berkelanjutan hingga terbentuk karakter yang kuat, percaya diri, kritis, kreatif, mandiri, komunikatif, serta mampu menghadapi tantangan zaman yang kompleks.

TANTANGAN
Beberapa tantangan utama yang dihadapi dalam upaya ini antara lain:


Mengubah formasi atau pola pikir dan motivasi siswa
Mengingat sebagian besar siswa masih memiliki pola pikir yang mudah menyerah dan meyakini bahwa kecerdasan adalah bawaan lahir yang tidak dapat diubah. Selain itu, mereka masih cenderung terpaku pada hasil akhir (nilai) daripada proses perkembangan dirinya.


Transformasi pola pembelajaran
Mengubah kebiasaan mengajar yang rata-rata masih berada pada level C1 dan C2 menjadi Pembelajaran Mendalam. Hal ini menuntut proses pembelajaran yang tidak hanya berhenti pada pemahaman, tetapi hingga kemampuan siswa dalam mengaplikasikan ilmu (C3).


Mengintegrasikan Pengembangan 8 DPL ke dalam pembelajaran
Kegiatan pembelajaran belum sepenuhnya mengintegrasikan materi dan kegiatan secara eksplisit dan terarah untuk mengembangkan 8 Dimensi Profil Lulusan (8 DPL), sehingga siswa minim pengalaman dalam menghadapi permasalahan yang menantang dan kompleks.


Meningkatkan keterlibatan warga sekolah dan orang tua (kemitraan)
Mengatasi kurangnya intervensi dan pembiasaan yang konsisten, serta membangun pola kemitraan yang kuat agar pembentukan karakter siswa dapat berjalan optimal.


AKSI
Inti dari Pembelajaran Mendalam adalah bagaimana pembelajaran itu menjadi lebih bermakna. Untuk lebih bermakna, maka perlu perubahan pola berpikir dari yang semula pola berpikir tetap menjadi pola berpikir bertumbuh, peningkatan proses pembelajaran minimal sampai kompetensi mengaplikasikan (C3), pengintegrasian 8 DPL, mengapresiasi usaha atau perubahan yang terjadi pada siswa, serta merefleksi proses dan hasil pembelajaran sehingga pembelajaran dapat lebih bermakna. Perubahan ini dirasa efektif oleh kepala sekolah dengan melakukan strategi Intervensi 4 Si (Formasi pola berpikir siswa, Integrasi 8 DPL oleh guru dalam proses pembelajaran, Apresiasi siswa yang menunjukkan adanya usaha atau perubahan, dan Refleksi proses dan hasil pembelajaran).
1. Formasi
Peran kepala sekolah harus dapat menggerakkan guru, siswa, dan orang tua agar dapat memformasi pola berpikirnya. Pola pikir siswa perlu diintervensi dari pola pikir tetap (fixed mindset) menjadi pola pikir bertumbuh (growth mindset) melalui transformasi pola pikir guru dan orang tua terlebih dahulu sebagai bentuk kemitraan pembelajaran. Guru diharapkan lebih menekankan bahwa proses atau perkembangan siswa jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir. Perubahan pola pikir guru dan orang tua sangat menentukan “warna” bagi siswa. Jika guru memiliki pola pikir penuh semangat dan pantang menyerah, maka siswa pun akan mengikutinya. Demikian pula peran orang tua sangat menentukan karena sebagian besar waktu siswa dihabiskan bersama mereka. Kolaborasi guru dan orang tua dalam membentuk pola pikir bertumbuh akan menjadi fondasi bagi lahirnya karakter positif siswa.
2. Integrasi
Seorang kepala sekolah berperan sebagai penggerak budaya sekolah yang harus dapat mengintegrasikan karakter ke dalam semua aspek kegiatan sekolah, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun pembiasaan harian yang difokuskan pada penguatan karakter.
Kegiatan Intrakurikuler
Karakter yang dibiasakan meliputi penalaran kritis, kreativitas, komunikasi, dan kemandirian.
Kegiatan Ekstrakurikuler
Karakter yang dibiasakan meliputi kolaborasi (Pramuka, baris-berbaris, sepak bola), kreativitas (seni tari dan kreasi seni), serta kewargaan (Pramuka dan OSIS). Kesehatan juga dibentuk melalui sepak bola dan SAIH.
Kegiatan Pembiasaan Harian
Karakter yang dibiasakan meliputi keimanan dan ketakwaan melalui kegiatan Imtak, Tausiah Jumat, dan salat berjamaah. Selain itu, karakter kewargaan dipupuk melalui kegiatan 7 KAIH, komunikasi melalui kegiatan STMJ (Salam, Tegur, Maaf, dan Jabat Tangan), serta kesehatan melalui kegiatan Aksi Bergizi dan SAIH.
3. Apresiasi
Kepala sekolah berperan sebagai pemberi apresiasi dan motivasi terhadap siswa, yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan rasa percaya diri mereka. Bentuk apresiasi yang paling utama adalah apresiasi terhadap proses, bukan semata-mata hasil akhir atau nilai yang dicapai. Sekecil apa pun usaha, perubahan, atau kemajuan yang terjadi pada diri siswa harus segera diberikan apresiasi agar mereka merasa dihargai. Hal ini akan menumbuhkan semangat belajar, meneguhkan rasa percaya diri, serta memperkuat karakter tangguh yang dibutuhkan siswa untuk berkembang.
4. Refleksi
Refleksi, evaluasi, sekaligus mengawasi pelaksanaan kegiatan merupakan peran penting kepala sekolah. Kegiatan tanpa refleksi sia-sia, tetapi refleksi tanpa kegiatan berbahaya (Modul Guru Penggerak), sehingga setiap program yang dilaksanakan perlu diikuti dengan proses refleksi agar dapat berjalan optimal. Oleh karena itu, sekolah melaksanakan kegiatan refleksi secara rutin setiap hari Senin sampai Kamis. Refleksi ini dilakukan oleh kepala sekolah bersama guru terhadap semua kegiatan, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun pembiasaan harian. Melalui refleksi rutin, guru dapat mengidentifikasi pencapaian, hambatan, dan strategi perbaikan agar program tersebut memberikan dampak nyata bagi siswa melalui pendekatan pembelajaran mendalam.

REFLEKSI HASIL


Melalui strategi ini, terlihat bahwa peran kepala sekolah sangat strategis dalam menciptakan pembelajaran mendalam. Strategi Intervensi 4 Si mampu membentuk pola berpikir bertumbuh siswa sehingga mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Penanaman karakter yang terintegrasi dalam setiap kegiatan juga membantu meminimalkan berbagai hambatan yang muncul. Dengan demikian, siswa menjadi lebih berani menyampaikan pendapat, aktif berdiskusi, serta mampu bekerja sama dalam kelompok. Selain itu, apresiasi terhadap proses belajar mampu menumbuhkan motivasi intrinsik siswa. Sementara kegiatan refleksi rutin membantu guru memantau perkembangan siswa. Secara keseluruhan, pembelajaran mendalam dapat tercipta melalui Strategi Integrasi 4 SI secara optimal.


Transformasi karakter siswa semakin terbentuk dan siswa menjadi lebih siap menghadapi tantangan abad ke-21 dengan lebih percaya diri, mandiri, dan berdaya saing.



DAMPAK
1. Bagi Siswa
a. Dampak dari intervensi 4 Si adalah terbentuknya pola pikir siswa yang bertumbuh (growth mindset).
b. Siswa tidak lagi mudah menyerah, menjadi lebih percaya diri, dan berani mencoba hal-hal baru.
c. Perubahan ini juga berdampak pada penguatan karakter yang terlihat dari meningkatnya keaktifan mereka dalam presentasi atau mengaplikasikan ilmu yang diperoleh sehingga pembelajaran semakin mendalam.
2. Bagi Guru
a. Terbentuknya pola pikir guru yang semakin bertumbuh serta terjadi transformasi proses gaya mengajar yang lebih mendalam dan tidak sekadar mengejar nilai akhir tetapi lebih mengutamakan proses.
b. Guru semakin terampil mengintegrasikan 8 DPL dalam kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun pembiasaan.
c. Guru menjadi lebih reflektif dan adaptif karena terbiasa melakukan refleksi rutin, sehingga strategi pembelajaran yang diterapkan semakin tepat sasaran.
3. Bagi Sekolah
a. Terbangunnya budaya sekolah yang positif dengan suasana religius, berkewargaan, kritis, kreatif, kolaboratif, mandiri, sehat, dan komunikatif.
b. Mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui program penguatan karakter yang lebih terarah, berkesinambungan, dan selaras dengan 8 DPL.
c. Citra sekolah semakin meningkat karena dikenal sebagai lembaga yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter unggul siswa.

REFERENSI TERKAIT
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua.
Sani, Ridwan Abdullah. (2019). Pembelajaran Berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills). Cetakan Kedua. Tangerang: Tira Smart.
Fullan, Michael. (2020). Deep Learning: Engage the World Change the World. Cetakan Pertama. California: Corwin Press.