Madu Trigona dan Ikhtiar Sekolah Membentuk Generasi Berdaya Saing

Lombok Barat, — Di tengah upaya memperkuat pendidikan berbasis lingkungan dan kecakapan hidup, SMPN 1 Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, mengembangkan program budidaya madu trigona sebagai bagian dari inovasi pembelajaran terintegrasi di sekolah.

Program yang dirintis sejak 2023 ini tidak semata berfokus pada produksi madu, tetapi juga menjadi wahana pembentukan karakter, peningkatan kompetensi, serta penumbuhan jiwa kewirausahaan siswa.

Kepala SMPN 1 Batulayar, Syamsuri, menyebutkan bahwa program ini berangkat dari visi sekolah: “Berkarakter, Cerdas, Berdaya Saing, dan Berwawasan Lingkungan.

.“Kami melihat potensi alam Desa Senteluk yang sangat mendukung. Budidaya madu trigona menjadi media yang tepat untuk menghijaukan sekolah sekaligus melatih jiwa kewirausahaan siswa,” ujarnya.

Pada tahap awal, sekolah hanya memiliki 10 kotak (box) lebah trigona. Namun, seiring komitmen yang konsisten serta dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, jumlah tersebut meningkat menjadi 30 box pada 2026. Penambahan ini membuat produksi madu lebih stabil dan mulai mampu memenuhi kebutuhan di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.

Program ini melibatkan siswa secara langsung dalam setiap proses, mulai dari merawat tanaman pakan lebah, menjaga kebersihan area budidaya, hingga panen madu. Kegiatan tersebut diintegrasikan dalam pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) sekaligus menjadi bagian dari implementasi Sekolah Adiwiyata.Melalui pendekatan ini, lanjut Syamsuri siswa tidak hanya belajar secara teoretis, tetapi juga praktik di lapangan. Mereka melakukan observasi koloni lebah, mencatat perkembangan, serta memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

“Anak-anak menjadi lebih peduli terhadap lingkungan. Mereka menyadari bahwa tanpa lingkungan yang hijau, lebah tidak akan menghasilkan madu. Ada kebanggaan tersendiri ketika mereka berhasil memanen madu yang bernilai ekonomis,” kata Syamsuri.

Dari sisi kewirausahaan, produk madu trigona mulai dipasarkan di lingkup lokal, seperti kepada guru, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar. Penjualan dilakukan melalui sistem pre-order serta pameran pendidikan yang difasilitasi dinas terkait.Namun, program ini juga menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga ketersediaan pakan lebah saat musim kemarau. Selain itu, ancaman hama seperti semut dan laba-laba memerlukan pengawasan intensif.Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah menggerakkan seluruh warga sekolah menanam berbagai jenis bunga sebagai sumber nektar. Siswa juga dilatih melakukan pengecekan rutin serta perlindungan terhadap kotak lebah.

Ke depan, SMPN 1 Batulayar menargetkan program ini berkembang menjadi unit usaha sekolah yang dikelola secara profesional. Saat ini, pihak sekolah tengah mempersiapkan aspek legalitas dan manajemen agar hasil budidaya dapat memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan.“Keuntungan nantinya akan dikembalikan untuk mendukung kegiatan siswa dan perawatan lingkungan sekolah,” ujar Syamsuri.

Respons positif datang dari orang tua dan masyarakat. Selain memberikan keterampilan praktis bagi siswa, program ini juga menghadirkan produk madu trigona murni dengan kualitas yang terjaga.Syamsuri berharap program ini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan daya saing kewirausahaan.“Hasil madu adalah bonus, tetapi karakter siswa yang terbentuk merupakan pencapaian utama,” tuturnya. (Sahman)