
Lombok Barat— Di tengah ketatnya persaingan antar sekolah, SMPN 3 Gunungsari terus menunjukkan semangat dan perjuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Berada dalam satu desa bersama sejumlah SMP dan MTs negeri maupun swasta, sekolah ini harus bekerja keras meyakinkan masyarakat agar mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di sekolah tersebut.

Kepala SMPN 3 Gunungsari, H. M. Sapruddin, mengatakan saat dirinya mulai memimpin sekolah itu pada 2023, jumlah siswa hanya sekitar 105 orang. Namun melalui kerja bersama guru dan tenaga kependidikan, jumlah peserta didik kini meningkat menjadi 167 siswa.
“Di tengah banyaknya sekolah saingan di sekitar kami, semangat ibu bapak guru sangat luar biasa dalam mencari murid. Berbagai strategi dilakukan demi mengajak masyarakat menyekolahkan anaknya di SMPN 3 Gunungsari,” ujarnya.
Menurut Sapruddin, sekolah berupaya meningkatkan daya tarik melalui penguatan kegiatan ekstrakurikuler. Saat ini terdapat delapan kegiatan unggulan, seperti tahfiz Al-Qur’an, drumband, futsal, silat, PMR, pramuka, dan paskibra.
Ia mengakui, berbagai kegiatan tersebut membutuhkan biaya tambahan, terutama untuk membayar pelatih. Namun pihak sekolah tetap berusaha mempertahankannya sebagai bagian dari pelayanan pendidikan kepada masyarakat.
“Semua kegiatan ini membutuhkan dukungan dana. Tetapi kami tetap berikhtiar karena ini bagian dari pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Perjuangan mencari peserta didik baru, lanjut dia, menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan sekolah, termasuk dana BOS dan pemenuhan jam mengajar guru. Bahkan, sejumlah guru secara sukarela menyisihkan sebagian tunjangan sertifikasi untuk membantu pembelian seragam calon siswa.
“Tiga bulan sebelum SPMB, kami sudah membentuk panitia dan membagi tugas ke berbagai SD dan MI. Kami mendatangi sekolah-sekolah seperti orang menjual obat agar laku. Namun semua itu kami niatkan sebagai ikhtiar agar tidak ada anak Lombok Barat yang putus sekolah,” ungkapnya.
Dukungan masyarakat terhadap sekolah juga dinilai cukup besar. Kepala desa setempat, misalnya, memberikan hadiah kepada siswa berprestasi sebagai bentuk motivasi agar anak-anak semakin semangat belajar dan berprestasi.
Untuk Tahun Ajaran 2026/2027, SMPN 3 Gunungsari berharap jumlah peserta didik baru terus meningkat. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 12 calon siswa yang mendaftar, sebagian berasal dari SDIT An-Nujabah Kebon Talo, Rembiga, Kota Mataram.
Di tengah keterbatasan, sekolah tersebut juga mampu menorehkan berbagai prestasi membanggakan. Pada 2025, SMPN 3 Gunungsari meraih nilai Rapor Pendidikan terbaik kedua se-Kabupaten Lombok Barat. Sekolah itu juga menjadi juara pertama sekolah terbersih, terhijau, dan nol dodol plastik se-Kecamatan Gunungsari.

Tak hanya itu, siswa-siswi SMPN 3 Gunungsari juga meraih juara pertama lomba tahfiz tingkat Kabupaten Lombok Barat, juara dua lomba pidato, serta sejumlah prestasi pada cabang silat tingkat Kota Mataram.
Sapruddin berharap pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat memberikan perhatian lebih kepada sekolah-sekolah kecil di wilayah pinggiran, khususnya dalam pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan.
“Kami berharap apa yang dilakukan bersama ibu bapak guru dan tenaga tata usaha menjadi amal ibadah di sisi Allah SWT serta mampu memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan di Lombok Barat,” katanya.
